Skip to main content
Kamis, 24 April 2014

Sejuta Gaya Jas Pria

Metrogaya - Dalam sebuah peragaan busana pada pertengahan 1990-an di Paris, perancang terkenal dunia Giorgio Armani pernah mengatakan, pria juga memerlukan sentuhan gaya khas.

"Seiring waktu yang terus berputar, pria pun memerlukan sentuhan gaya khusus untuk penampilan dirinya. Kini, soal gaya berbusana, pria pun tak kalah oleh wanita," ujar Armani.

Apa yang dikatakan pria gaek kelahiran 11 Juli 1934 ini tampaknya bukan isapan jempol. Alhasil, sepanjang era 1990-an boleh dikatakan busana pria marak dan naik daun. Bukan hanya para perancang mancanegara yang menyajikan karya khusus busana kaum Adam. Di Tanah Air, busana pria juga tumbuh subur seperti jamur pada musim hujan.

Memang tidak bisa dimungkiri gaya busana pria identik dengan gaya tailor atau penjahit. Salah satunya Wong Hang Distinguished Tailor, yang selalu menyajikan gaya inspiratif. Beberapa waktu lalu Wong Hang, yang berdiri di Indonesia sejak 1933, menggelar peragaan akbar yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Surabaya.

Mereka menampilkan gaya Italia baru dan koleksi musim semi. Gaya Italia baru merupakan setelan jas trendi memakai bandana katun atau sutra yang dipakai sebagai pengganti dasi supaya terlihat dominan. Dipermanis dengan aksen mata dasi berkilau bila tertimpa cahaya.

Adapun koleksi musim semi formal menyajikan gaya jas yang jauh lebih santai dengan menggunakan bahan wol, kasmir, atau sutra kasual. Gaya lainnya berupa jas dan jaket aristokrat ala bangsawan Inggris sejati yang menampilkan pesona kenyamanan dengan pengerjaan jahitan yang rapi.

Bahan yang digunakan adalah campuran antara sutra dan wol, sehingga terkesan lebih tampil ringan. Untuk warna, menampilkan merah bata bercampur kelabu, tembaga, khaki, dan perak ala milenium.

Menurut Timothius Wongso, putra dan sekaligus generasi kedua Wong Hang, untuk menyajikan gaya busana pria itu, inspirasinya didapat melalui perjalanan ke sejumlah kota mode dunia, seperti Milan, Hong Kong, dan London. Bersama para anggota keluarga besarnya yang menjalankan bisnis di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lainnya di Indonesia ini, mereka kompak untuk selalu memadukan unsur modern dan klasik.

Maksudnya? "Kami selalu memadukan unsur modern atau yang terbaru dengan pakem jahitan khas yang sudah turun-temurun dikelola oleh ayah dan kakek kami yang memang terkenal sebagai pembuat jas pada zamannya," ujarnya.

Timothius menyebutkan, koleksi maskulin merupakan setelan jas bergaya ringan dengan aksen draperi, ikat yang sederhana namun detail. "Bagi pemakainya memberi kesan gagah, segar, dan muda berwibawa, yang memang merupakan gaya jas bagi kalangan muda," tuturnya.

Sementara pada setelan jas pengantin menyajikan pemakaian warna khaki, hitam, atau metalik, yang mencerminkan gaya kemegahan, demi mengimbangi glamoritas gaun pengantin wanita supaya tampak seimbang.

Dari segi model kancing, jas terdiri atas jas kancing sebaris (single breasted) dan jas kancing dua baris (double breasted). Belakangan pria cenderung memilih jenis kancing sebaris karena lebih praktis dan efektif. Adapun gaya kancing susun ganda sudah jarang dipakai.

Timothius menerangkan, pria yang berperut tambun bisa tampil menarik bila mengenakan jas kancing dua baris. "Jumlah kancing yang menempel di bagian depan jas memberi kesan lebih panjang dan ramping," ujarnya.

Pada jas model klasik cenderung tampak sederhana. Jas ini memiliki satu atau dua kancing yang memberi kesan lebih aman. Hingga kini gaya ini masih disukai. Namun, menurut Timothius, sebagian pria muda yang ingin tampil lebih bergaya sering melebihkan jumlah kancing menjadi tiga atau empat buah. "Mengenakan jas begini terkesan lebih muda."

Aktor Ari Wibowo dan Marcelino mengaku menyukai gaya jas Wong Hang. "Mau dalam kondisi bagaimanapun, aku mengenakan setelan jas di sini dengan nyaman. Secara pribadi, setelan jas merupakan busana wajib yang harus kumiliki untuk tampil di berbagai acara," tutur Marcelino. (hd/tempointeraktif.com)